Mari Membuat Mainan Dari Bekas Tutup Botol Air Mineral Galon
Kreatif minggu ini akan menampilkan kreasi Mainan atau bisa juga dibuat untuk hiasan gantung depan pintu kamar anak anda.
Cara membuatnya:
1.Siapkan bekas tutup botol air mineral Galon
2.Cuci/bersihkan semua tutup botol dengan air bersih lalu keringkan atau dilap.
3.Buatkan sketsa gambar dengan spidol hitam bentuk menyerupai Kepik (serangga) pada punggul tutup botol
4. Berilah warna sesuka anda sesuai bentuk yang anda buat dengan cat aclirik/ cat lukis
5. Simpan sampai permukaan mengering
6. Tambahan mata pada semua mainan
7. Lapisi dengan menggunakan vernis agar warna tidak mudah mengelupas.
Selamat Mencoba!
Bunda Mei
Kotak Pencarian
Rumah Kreatif Bunda Mei Headline Animator
Thursday, 6 December 2012
Sunday, 18 November 2012
Ini Caranya Membantu Anak Pemalu Agar Lebih Percaya Diri
Kellie Karlina - wolipop
Orang-orang sering berasumsi
bahwa seiring berkembangnya usia sang buah hati, mereka dapat mengatasi rasa
malunya. Namun, hasil riset Vanderbilt University yang dipublikasikan pada
jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience, Februari 2012 menunjukan
bahwa hal tersebut tidaklah benar.
Rasa malu adalah cara seseorang
dalam mengungkapkan rasa tidak familiarnya dengan lingkungan yang baru. Jika
rasa malu merupakan sifat yang dibawa dari kepribadian seseorang, lingkungan
yang tidak mendukung bisa membuat anak menjadi pribadi yang kurang aktif dan
tak mau terlibat dalam aktivitas di sekitarnya.
Di sinilah orangtua harus
berperan menghilangkan sifat pemalu dari anak dengan sehingga si kecil bisa
menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya dan lebih percaya diri. Berikut ini
beberapa cara yang bisa dilakukan seperti dipaparkan circleofmoms:
1. Jangan Memberi 'Label' pada
Anak
"Jika Anda selalu mengatakan
pada orang lain kalau anak Anda orang yang pemalu, makan si kecil akan merasa
dan memercayai bahwa dirinya memanglah sosok yang pemalu," jelas Alison S.
Renowned, dokter anak dan ahli parenting. Dalam mengungkapkan perilaku sang
anak, buatlah kata-kata yang lebih netral dan tidak menghakimi atau menilainya.
2. Memberi Dukungan pada Anak
Buah hati Anda mengetahui bahwa
ia adalah anak yang pemalu. Daripada menutupi hal tersebut, lebih baik dorong
dia untuk menjadi anak yang lebih percaya diri. Jangan ikut menganggap sifat
pemalunya itu tidak normal, sehingga anak tak terlalu mengkhawatirkannya.
3. Kenalkan pada Hal yang Belum
Pernah Anak Lakukan
Melindungi buah hati Anda dari
pengalaman yang belum pernah ia lakukan bukanlah solusi yang dianjurkan. Namun
hal ini juga tidak berarti Anda langsung memaksanya untuk melakukan hal-hal
yang ia takutkan karena bisa menyebabkan trauma atau kecemasan.
Saat mengajaknya mencoba sesuatu
yang baru, temani anak. Misalnya saat ia memasuki kelas yang baru sekolah saat
tahun ajaran baru, atau menemaninya pada pesta ulang tahun temannya. Keberadaan
Anda bersamanya, dapat membuatnya merasa lebih nyaman dan terbiasa dengan
kegiatan tersebut. Selain itu, coba juga ajak anak mengikuti kegiatan-kegiatan
yang dapat membantunya menghilangkan sifat pemalunya tersebut. Misalnya les
menari, olahraga, dan lain-lain yang memungkinkan anak tampil di depan umum
melalui kemampuannya.
4. Bantu Anak Menumbuhkan
Kepercayaan Diri
Bagi beberapa orangtua yang
ditakutkan sebenarnya bukan sifat pemalu yang dimiliki anak, melainkan takut
jika sang buah hati tidak dapat memutuskan kemauannya sendiri dan hanya
mengikuti teman-temannya.
Sharon Silver, Parenting Coach
dan Kontributor RoundUp mengatakan dalam bukunya 'The Key to Building Your
Child's Self Esteem', buatlah kondisi yang dapat membangun kepercayaan diri
anak dengan memberikannya tugas yang dapat ia lakukan dengan baik. Misalnya
menyuruhnya untuk memilih dan memesan makanan yang ia sukai di restoran
favoritnya. Hal ini membuatnya lebih percaya diri dan lebih mandiri.
5. Ajari Buah Hati Keterampilan
Dasar dalam Bersosialisasi
Anak yang pemalu akan sulit
bersosialisasi dengan orang di sekitarnya. Oleh karena itu mulailah dengan
mengajarnya hal-hal dasar seperti memandang lawan bicara dan berbicara dengan
suara yang lebih lantang. Jika ia sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti itu,
ia akan melakukannya juga saat bersosialisasi di lingkungan sekitarnya. Begitu
anak sudah mulai beranjak dewasa, ajak ia untuk mengikuti kegiatan yang dapat
menumbuhkan kemampuannya bersosialisasi seperti mengikuti kelas teater, drama
ataupun klub yang dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya.
Rasa malu mungkin bersifat
biologis, namun tidak berarti hal tersebut harus memengaruhi tumbuh kembang
anak. Dengan pengertian dan dukungan dari orangtua, anak akan belajar secara
perlahan-lahan untuk mengatasi rasa malunya.
Tuesday, 13 November 2012
Adegan Kekerasan di TV Bikin Masalah Tidur pada Balita
Linda Mayasari - detikHealth
Sebuah studi terbaru menemukan bahwa keluarga yang
disarankan untuk beralih dari acara TV yang mempertontonkan kekerasan dalam
beberapa bulan, anak-anaknya memiliki kualitas tidur yang lebih baik
dibandingkan keluarga yang tidak menerima saran tersebut.
Masalah tidur anak berkurang hingga sekitar 20 persen
setelah orang tua memilih tontonan yang lebih mendidik. Tontonan yang baik
untuk anak harus disesuaikan dengan usianya.
"Orang tua cukup mengubah tontonannya di rumah agar
anak dapat tidur lebih nyenyak," kata Michelle Garrison, penulis utama
studi tersebut dari Seattle Children's Research Institute, seperti dilansir
foxnews, Selasa (7/8/12).
Untuk melihat apakah menghindari acara TV dengan konten
kekerasan dapat meningkatkan kualitas tidur anak-anak, Garrison dan
rekan-rekannya melakukan penelitian dan menerbitkannya dalam jurnal Pediatrics.
Penelitian tersebut melibatkan anak-anak antara usia 3
sampai 5 tahun. Sekitar 565 anak dan keluarga berpartisipasi dalam penelitian
tersebut dan dibagi menjadi dua kelompok secara acak.
Kelompok pertama terdiri dari 276 anak dan orang tua yang
didorong untuk mengubah tontonan keluarga yang semula drama-drama yang
mempertontonkan kekerasan dengan tontonan kartun kesukaan anak seperti Dora the
Explorer.
Kelompok pembanding lainnya tidak melakukan hal serupa
tetapi 289 anak-anak dan orang tua hanya diminta untuk makan makanan yang sehat
sebagai gantinya. Kemudian peneliti mengevaluasi hasilnya melalui setiap 6
bulan, 12 bulan dan 18 bulan penelitian.
Pada awal penelitian, 42 persen dari anak-anak pada kelompok
pertama memiliki beberapa jenis masalah tidur dan 39 persen dari anak-anak di
kelompok kedua. Masalah tidur yang paling umum adalah anak memerlukan waktu
yang terlalu lama untuk dapat tertidur selama beberapa malam per minggunya.
Setelah enam bulan, masalah tidur turun menjadi 30 persen
pada kelompok pertama, sedangkan pada kelompok pembanding hanya turun beberapa
persen saja yaitu sampai 36 persen. Hasil tersebut terus menurun secara signifikan
pada kelompok pertama dan perlahan-lahan pada kelompok kedua setelah satu tahun
penelitian.
"Hal ini bukan hanya disebabkan karena konten kekerasan
begitu menakutkan bagi anak, tetapi anak akan selalu terbayang-bayang hal
tersebut hingga dirinya pergi tidur," kata Dr Umakanth Khatwa dari Boston
Children's Hospital di Massachusetts.
Selain memilih konten yang lebih sesuai dengan usia anak,
orang tua harus mematikan TV setidaknya 2 jam sebelum tidur, membuat waktu
tidur dan waktu bangun yang konsisten setiap harinya. Hindarilah menonton acara
TV untuk orang dewasa ketika anak-anak sedang berada di sekitar Anda.
Wednesday, 24 October 2012
Menerima Pendaftaran Kursus Tari Bali (Muslim) Angkatan I tahun 2012
Kami selaku pengelola Rumah Kreatif Bunda Mei (RKBM) membuka program Kursus Tari Bali (Muslim) Angkatan Pertama tahun 2012.
Program ini merupakan program terobosan baru kami dalam kreatifitas Seni Tari khususnya Tari Bali.
Sesuai perkembangan dan kreatifitas seni tari di tanah air, kami memberikan corak tersendiri tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya seni Tari Bali.
Tari Bali yang dimasa sekarang ini sudah mendunia dan begitu banyak diminati oleh semua masyarakat di luar masyarakat Bali mempunyai daya tarik tersendiri. Banyak sekali kalangan muda -mudi yang ingin dan sudah belajar dan mendalami Tari Bali. Namun, banyak juga yang ingin belajar tetapi dengan latar budaya daerah dan agama yang berbeda menjadikan mereka sungkan dan canggung untuk mempelajarinya. Karena negara Indonesia merupakan negara dengan mayoritas masyarakatnya beragama Islam.
Untuk itu, kami memberikan solusi untuk memberikan nuansa islami dalam tatabusana Tarian Bali tanpa meninggalkan nilai seni dari tari tersebut. (Bundamei)
Silahkan klik halaman di bawah ini untuk mengetahui lebih lanjut:
Wednesday, 10 October 2012
Menari dan Matematika sama Pentingnya!
Posted by Kreshna
| sumber foto: www.dasarbali.wordpress.com |
Ketika
menyampaikan TEDTalk berjudul “Benarkah Sekolah Membunuh Kreativitas?”,
profesor pendidikan Sir Ken Robinson menunjukkan fakta bahwa selalu ada
hierarki subjek pada sistem pendidikan di seluruh dunia, di mana pelajaran
seperti Matematika dan Bahasa menempati prioritas tertinggi sedangkan pelajaran
seni dan kemanusiaan menempati posisi terbawah. Dalam tiap hierarki itu pun ada
sub hierarki lagi, seperti di pelajaran seni yang menempatkan menggambar dan
menyanyi jauh lebih penting daripada seni peran dan menari. Ia kemudian
menyampaikan keheranannya mengapa di sekolah kita tidak mengajari anak-anak
meari seperti kita mengajari mereka Matematika? Bukankah anak-anak menari
setiap saat? Mengapa seiring bertambahnya usia anak, kita semakin berfokus pada
kepala saja? Mengapa menari hanya menjadi pelajaran ekstra kurikuler? Seberapa
(tidak) pentingkah menari dalam pendidikan anak?
Secara
umum tari memiliki beberapa fungsi antara lain: ekspresi budaya, media
komunikasi, salah satu bentuk seni, dan alat sosialisasi pula. Mengajarkan tari
pada anak-anak secara spesifik akan membawa banyak manfaat, seperti:
>>
Kebugaran fisik. (Ya iya lah!) Ini saya tulis pertama karena yang paling
terlihat manfaatnya. Saat menari entah berapa banyak otot yang bekerja, dan
anak dilatih menjadi lebih kuat, seimbang, berstamina, koordinatif dan
fleksibel. Walaupun anak sudah terlihat tidak punya bakat menjadi penari
profesional nantinya namun kalau ia suka menari kemungkinan besar ia akan
memiliki pola hidup yang lebih aktif sampai dewasa nanti. Selain kekuatan dan
lainnya, dengan berlatih menari postur tubuh juga menjadi lebih baik. Cara
berdiri, duduk, berjalan, dan semua aktivitas lain akan menjadi lebih baik (dan
lebih anggun). Terbiasa memiliki postur tubuh yang benar dalam kegiatan
sehari-hari saja sudah akan mengurangi banyak penyakit. Tidak percaya? Silahkan
baca tentang Alexander Technique ini.
>>
Tambahan sedikit soal koordinasi. Coba lihat video di bawah ini tentang seorang
anak yang sedang bermain game Dance Dance Revolution di rumahnya. Skornya
sempurna, koordinasi tubuhnya luar biasa, dan video ini sudah dilihat lebih
dari 5 juta kali di YouTube. Kebanyakan orang yang melihat ini mungkin akan
berkomentar, “Gila nih orang tuanya, anak dibiarin main ginian terus. Pasti gak
pernah belajar nih!” Hmm, justru anak ini belajarnya sudah luar biasa sampai
bisa seperti itu. Kalau saya mungkin akan berkomentar, “Gila aja nih orang
tuanya kalau sampai anak kaya’ gini nggak disekolahin ke sekolah tari atau
atlet. Ini sih sudah kelihatan passion-nya memang di situ dan jenius pula
kecerdasan kinestetiknya!”
>>
Percaya diri dan fokus. Kenapa percaya diri bisa meningkat dengan menari?
Alasan yang langsung terlihat adalah karena mereka akan merasa senang dengan
tubuhnya dan kemampuannya mengolah gerak. Namun bukan hanya itu, Anthony
Robbins, sekorang pakar NLP dan motivasi top dunia, selalu menyarankan semua
orang yang ingin mengubah nasib hidupnya dengan memulai dari mengubah tubuhnya
dulu menjadi lebih sehat dan bugar. Dengan memperhatikan kesehatan dan
kebugaran fisik terlebih dahulu, kita akan benar-benar merasa memegang kendali
dan bertanggung jawab atas diri kita sendiri (bukan berarti melupakan Tuhan
ya). Kemampuan untuk berfokus juga akan meningkat dengan belajar menari. Jelas
lah ini. Gimana bisa menari dengan baik kalau nggak fokus?
>>
Melatih berkomitmen dan disiplin. Berlatih menari yang baik butuh latihan
berkali-kali. Anak akan belajar untuk memiliki komitmen dan dedikasi yang kuat,
serta disiplin berlatih terus menerus bersama rekan-rekannya (menari biasanya
tidak sendiri) agar bisa menari dengan baik. Penari-penari profesional seringkali
harus melewati perjalanan karir yang dipenuhi dengan latihan-latihan intensif
setiap harinya selama bertahun-tahun untuk mencapai kesuksesan. Jangan dikira
menjadi penari itu cukup latihan part time. Silahkan lihat dokumenter tentang
Dance School Julliard (seri 1, seri 2, dan seri 3) ini untuk melihat betapa
berdedikasinya para siswa sekolah tari. Jauh banget dari gambaran anak-anak
sekolah formal… yang kita lihat di sinetron. He he.
>>
Sosialisasi dan kerjasama tim. Menari adalah kegiatan berkelompok yang
memerlukan komunikasi, pengertian, dan kekompakan tim. Ini sih sudah jelas ya?
Tapi lebih dari itu, belajar kerjasama juga didapat dari komitmen untuk datang
dan berlatih. Anak akan belajar untuk tidak mengecewakan rekan-rekan satu
timnya dengan bermalas-malasan karena performa seluruh tim akan terpengaruh
pula. Ini lah yang saya sebut mengajari anak berkolaborasi, bukan hanya
berkompetisi.
>>
Menari juga bisa menjadi saluran bagi anak dalam menyalurkan emosi. Menari
digunakan untuk merepresentasikan banyak perasaan seperti kebebasan, harapan,
gairah, keberanian, kekuatan, dan keanggunan. Bukan itu saja, menari juga bisa
menjadi sarana pelampiasan emosi negatif. Dalam psikologi ada konsep Mekanisme
Pertahanan Ego, yaitu strategi mempertahankan citra ego yang kita gunakan saat
menghadapi kenyataan yang tidak mengenakkan. Ada banyak cara, kebanyakan
negatif, seperti: displacement, regression, repression, isolation, dll. Dari
namanya aja udah seram begitu. Namun ada juga yang positif seperti altruism,
anticipation, humor, dan sublimation. Nah yang terakhir ini, sublimasi, adalah
saat kita mentransformasi emosi atau naluri negatif menjadi aksi, emosi dan
perilaku positif. Contohnya saat kita kesal luar biasa karena dicaci maki bos
di depan rekan-rekan kerja, kita tidak lalu menendang kucing kurang beruntung
yang sedang lewat saat kita pulang, namun kita memilih untuk shalat, atau
berlatih pencak silat, atau… menari! Luar biasa bukan kalau anak sedari kecil
sudah diberi saluran mekanisme pertahanan ego yang baik bagi mereka?
Bayangkan
betapa banyak manfaat yang bisa didapat oleh anak saat mereka belajar dan
berkegiatan menari. Jadi mengapa menari tidak diajarkan pada anak-anak seperti
kita mengajari mereka Matematika? Tanya pemerintah, atau tanya orang tuanya donk.
(To be noted: I’m very good at Mathematics, and I’m very awful at dancing.)
Beberapa
catatan penutup, yang pertama, anak-anak memiliki rentang perhatian yang
pendek. Kalau mengajari mereka menari, usahakan tidak lebih dari 30-45 menit
setiap sesinya. Guru atau orang tua harus memperhatikan ketertarikan si anak,
membuat kelas penuh gerak dan tidak membosankan. Seperti pada pelajaran lain,
yang penting adalah anak bisa bersenang-senang dengannya. Serta yang
paling-paling penting, setelah membaca posting ini dan mengetahui pentingnya
menari, tapi anak kita ternyata tidak menyukai aktivitas menari, ya jangan
dipaksa.
Sumber: www.bincangedukasi.com
Monday, 24 September 2012
Belajar Berkemah
Penulis: Yusi Elsiano Rosmansyah
Bermalam di luar rumah dengan mendirikan tenda sering memberikan
pengalaman yang sangat menyenangkan, terutama untuk anak-anak. Ada
suasana berbeda ketika sedang berkemah. Suasana kebersamaan dan
keceriaan seringkali dapat dirasakan ketika sedang berkemah.
Kegiatan berkemah tidak hanya dilakukan oleh lembaga atau sekolah,
keluargapun dapat merencanakan hal serupa, berkemah bersama anak-anak.
Bedanya, orangtua sering merasa khawatir ketika sekolah meminta izin
supaya anak dapat ikut berkemah. Memang serba salah, jika diizinkan
khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tetapi jika tidak
diizinkan orangtua merasa bersalah karena anak tidak dapat pengalaman
baru bersama teman-temannya. Selain itu, kadang-kadang anak kecewa jika
orangtua tidak mengizinkannya ikut dalam kegiatan tersebut. Anak
beranggapan orangtuanya tidak pengertian dan tidak mau memberikan
kesempatan kepadanya untuk bisa bersenang-senang bersama teman.
Memberikan izin kepada anak untuk ikut berkemah memang tidak mudah,
terutama jika orangtua tersebut tidak pernah melepas anak tinggal dengan
orang lain. Kondisi seperti ini akan cenderung membuat orangtua ingin
melarang anak agar tidak jadi ikut berkemah. Membiarkan anak pergi
berkemah boleh jadi akan membuat perasaan orangtua menjadi terasa sangat
tersiksa. Bayangan-bayangan negatif yang mungkin terjadi pada diri anak
selama di perkemahan akan terasa sulit sekali untuk dihapuskan.
Menyikapi hal di atas, orangtua seyogyanya meyakinkan terlebih dahulu
bahwa anak akan mengikuti acara berkemah bersama orang-orang yang dapat
dipercaya dan di lokasi yang tidak membahayakan (aman). Bila semuanya
sudah jelas, janganlah orangtua lupa untuk memberikan penjelasan kepada
anak tentang apa saja yang harus dilakukan apabila ia mendapatkan
kendala saat berkemah. Selain itu, pesankan kepada anak dengan cara
bijak agar ia selalu menjaga diri dengan baik (yer).
Sejatinya, banyak nilai positif yang dapat diambil oleh anak melalui
kegiatan berkemah ini. Beberapa di antaranya adalah mengajarkan anak
bagaimana bertahan hidup, belajar bekerja sama dengan orang lain,
belajar perencanaan, belajar bagaimana cara membuat tempat untuk
beristirahat yang nyaman dan aman. Selain itu, berkemah juga baik untuk
merangsang kecerdasan natural (naturalist intelligence). Senada
dengan Maya & Wido (2006) menyatakan bahwa memberikan kesempatan
berada di ruang terbuka kepada anak dapat mendorong anak mengetahui
banyak informasi dan pengetahuan tentang bentuk-bentuk alam yang ada di
sekitarnya.
Sumber : www.perkembangananak.com
Friday, 7 September 2012
Keunggulan Bimbel Dengan Cara Les Privat
Berdasarkan hasil pengamatan pemerhati pendidikan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan anak memahami pelajaran di sekolahnya, antara lain cara mengajar gurunya di sekolah yang kurang dipahami atau tak disukai sang anak. Atau, kondisi belajar yang kurang kondusif, misalnya ruang kelas terlalu ramai dan berisik sehingga menganggu konsentrasi belajarnya. Maka, selain belajar di sekolah, anak perlu mengulang pelajarannya di luar sekolah. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang kesulitan mendampingi anaknya belajar di rumah karena kesibukannya, atau pelajaran sang anak belum tentu dipahami orang tuanya.
Lingkungan tempat les belajar (Bimbel) anak Anda biasanya akan berbeda dengan lingkungan di sekolah formal, karena teman-temannya juga akan berbeda, sehingga sangat penting memang untuk memperhatikan lingkungan tempat les yang akan dimasuki anak.
Jangan terjebak dengan biaya les yang murah, kalau lingkungan tempat les anak Anda berisi anak-anak yang sering jajan, maka ada kecenderungan anak Anda juga akan mengikutinya. Sehingga bisa berakibat si anak menjadi lebih boros dan tidak lagi fokus kepada proses belajarnya, malahan mungkin bisa jadi ia sibuk jajan dan bermain dengan teman-temannya tadi.
Contoh lainnya, ternyata teman-teman les si anak adalah anak-anak yang berperilaku kurang sopan dan sukanya main-main. Hal itu tentu sedikit banyak bisa berpengaruh terhadap diri si anak. Kalau ia tidak cocok, maka ia akan cenderung menyendiri. Tetapi kalau ia cocok dan ingin ikut-ikutan, maka ia bisa saja jadi berperilaku seperti teman-temannya tadi. Jadi, sekali lagi, lingkungan belajar yang baik, akan memberikan manfaat yang baik pula bagi anak Anda. Ujung-ujungnya, lagi-lagi, uang yang Anda keluarkan tidak akan sia-sia kalau memang Anda bisa memilih tempat les yang memiliki lingkungan yang baik.
Jadi jangan asal memilih les karena murahnya sedangkan lingkungannya kurang mendukung kegiatan belajar anak.
Ada cara yang lebih efektif dalam memfasilitasi belajar anak yaitu dengan les privat di rumah sendiri, dengan les privat:
1. Belajarnya anak lebih terpantau oleh orang tua. Karena kegiatan belajarnya di rumah.
2. Anak akan lebih terbuka berkaitan dengan materi pelajaran yang dianggapnya sulit.
3. Anak akan lebih kosentrasi belajarnya karena tidak ada yang mengganggu.
4. Anak juga berkesempatan mengulang kembali pelajaran sekolah untuk bisa lebih dipahami lagi. Karena, materi pelajaran tentu akan lebih mudah diingat bila dipelajari berulang-ulang.
Barangkali itu sedikit informasi yang bisa saya sampaikan, kembali pada orang tua langkah mana yang akan di ambil untuk membantu memfasilitasi belajar anaknya.
Bimbingan Belajar Bagi Anak
Pada umumnya prestasi belajar anak akan meningkat dengan adanya perhatian orang tua. Bentuk perhatian orang tua tidak hanya dari segi makanan untuk asupan gizi yang diperlukan anak, atau dengan memperhatikan keperluan belajarnya atau memantau waktu belajarnya, sebenarnya ada yang lebih penting lagi dan ini nyaris tak terperhatikan orang tua yaitu pemahaman dari yang dipelajarinya. Kadang anak anak akan merasa putus asa bila ada yang tidak dimengertinya dan dirumah tidak ada yang bisa menjelaskan permasalannya, lebih berbahaya lagi bila hal ini tak terselesaikan anak menjadi malas belajar.
Sebenarnya bila anak bisa memaksimalkan belajar nya di sekolah, anak tidak perlu mengulang kembali materi pelajarannya dirumah. Tapi bagi anak yang tidak bisa memaksimalkan belajar di sekolah tentu sangat perlu mengulang pelajarannya di rumah.
Disinilah perlunya anak memiliki teman belajar. Teman belajar yang dimaksud adalah orang yang bisa menemani belajar, bisa teman sekolah, orang tua, kakak, maupun orang lain yang menjual jasa bimbingan belajar
Sumber: lesprivat99.com
Subscribe to:
Posts (Atom)


